Skintific
Skintific
Skintific Skintific Skintific

Aceh dalam Bencana Butuh Revitalisasi Ekologis

Skintific

Aceh dalam Bencana: Butuh Revitalisasi Ekologis

Koran Sibolga — Aceh dalam Bencana Tahun demi tahun, Aceh kembali berhadapan dengan rangkaian bencana alam yang seakan tak kunjung jeda. Banjir, longsor, dan abrasi pantai muncul silih berganti, memperlihatkan betapa rapuhnya hubungan antara lingkungan dan kehidupan masyarakat. Di balik kerusakan fisik yang terus berulang, ada satu urgensi yang semakin jelas: Aceh membutuhkan revitalisasi ekologis yang menyeluruh.

Siklus Bencana yang Kian Memendek

Di berbagai kabupaten, warga menyaksikan banjir hadir lebih cepat dan lebih sering dari sebelumnya. Curah hujan yang tinggi bukan satu-satunya penyebab; kerusakan hutan, sedimentasi sungai, serta alih fungsi lahan menambah rentetan masalah. Sungai-sungai yang dulu tenang kini meluap hanya dalam hitungan jam setelah hujan deras. Daerah yang dahulu aman kini menjadi langganan banjir, membuat ratusan keluarga harus mengungsi berulang kali.

Skintific

Namun bencana itu bukan hanya persoalan alam, melainkan cermin dari kondisi ekologis yang menurun drastis.WALHI Aceh Sebut Banjir Besar sebagai Bencana Ekologis Akibat Kerusakan  Terencana | Waspada Aceh

Baca Juga: UIN Ar Raniry Banda Aceh Buka Donasi untuk Mahasiswa Terdampak Banjir Aceh via Nomor Rekening Ini

Kerusakan Hutan: Luka Lama yang Belum Sembuh

Aceh dikenal memiliki hamparan hutan tropis yang menjadi benteng alam dari bencana. Akan tetapi, penebangan liar, pembukaan lahan untuk pertanian, serta ekspansi permukiman telah meninggalkan luka mendalam pada kawasan hutan. Setiap pohon yang hilang berarti hilangnya satu lagi penahan air, penopang tanah, dan penjaga ekosistem.

Kini, ketika hujan turun, tanah kehilangan kemampuan menyerap air. Air mengalir deras ke pemukiman, membawa lumpur dan serpihan kayu yang menandakan rusaknya penyangga ekologis.

Aceh dalam Bencana Solusi Tidak Bisa Parsial

Para pemerhati lingkungan menilai bahwa penanganan bencana selama ini banyak bergantung pada respons darurat. Padahal, untuk menghentikan siklus kerusakan, Aceh membutuhkan revitalisasi ekologis yang mencakup:

Rehabilitasi hutan dan daerah aliran sungai (DAS) secara berkelanjutan, bukan sekadar penanaman simbolis.

Pengendalian tata ruang agar pembangunan tidak menyerobot wilayah penyangga.

Penguatan sistem peringatan dini untuk meminimalkan risiko korban jiwa.

Pemberdayaan masyarakat lokal agar berperan sebagai penjaga hutan dan sungai di lingkungannya sendiri.

Langkah-langkah ini menuntut kesabaran dan konsistensi, serta kerja kolaboratif antara pemerintah, lembaga lingkungan, akademisi, dan masyarakat adat.

Revitalisasi Ekologis untuk Masa Depan Aceh

Revitalisasi ekologis bukan hanya soal menyelamatkan pohon atau sungai.

Masyarakat kini semakin menyadari bahwa bencana tidak akan berhenti jika akar masalah tidak diperbaiki. Perubahan iklim global memang memperburuk situasi, tetapi kerusakan lokal yang dibiarkan semakin memperbesar risiko.

Menutup Luka, Membangun Harapan

Aceh membutuhkan pendekatan baru—bukan sekadar pemulihan setelah bencana, tetapi pembangunan ulang hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Skintific