Dukung Transformasi DPR RI Naikkan Pagu Anggaran Kementrans: Dukungan untuk Transformasi Transmigrasi
Koran Sibolga – Dukung Transformasi Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Transmigrasi sedang melakukan perubahan paradigma terhadap transmigrasi: tidak sekadar memindahkan penduduk dari daerah padat ke daerah yang kurang penduduk, tetapi transmigrasi menjadi bagian dari strategi pembangunan wilayah, pemerataan ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat di daerah.
Untuk mewujudkan transformasi tersebut, diperlukan sumber daya—termasuk anggaran—yang memadai agar program‑program unggulan bisa berjalan efektif.
Data Pengangkatan Anggaran dan Angka‑Pagu
DPR melalui Komisi V menyetujui Anggaran Belanja Tambahan (ABT) senilai sekitar Rp 1,7 triliun untuk Kementrans pada Tahun Anggaran (TA) 2025. Dengan tambahan ini, total pagu anggaran Kementrans 2025 menjadi sekitar Rp 1,89 triliun.
Untuk tahun 2026, pagu indikatif yang disepakati adalah sekitar Rp 1,9 triliun. Namun Kementrans mengajukan kebutuhan yang lebih besar, karena ada backlog kebutuhan program mencapai sekitar Rp 2,23 triliun, sehingga ada kekurangan sekitar Rp 329,09 miliar yang perlu ditutup jika ingin semua program prioritas terlaksana penuh.
Program Unggulan yang Didukung
Kenaikan anggaran tersebut diarahkan untuk lima program prioritas atau unggulan yang menjadi bagian dari transformasi transmigrasi:
Komisi V DPR RI menyampaikan dukungannya penuh terhadap kenaikan anggaran karena program‑program transmigrasi ini dianggap penting bagi pemerataan pembangunan, terutama di daerah tertinggal dan wilayah luar Jawa.
Ada dorongan agar kawasan transmigrasi bisa menjadi pusat‑pertumbuhan ekonomi baru yang tidak hanya bertumpu kepada perpindahan manusia tetapi pengembangan ekonomi, infrastruktur, sosial, dan legalitas lahan.
Pagu tambahan ini juga dibenarkan sebagai upaya percepatan pelaksanaan RPJMN Tahun 2025‑2029 yang menuntut pembangunan wilayah lebih inklusif dan mengurangi ketimpangan antar wilayah
Baca Juga: detik Armada Laut Rusia Luncurkan Rudal Zircon di Laut Barents
Tantangan dan Catatan Kritis
Ada risiko bahwa program‐program lambat terlaksana karena prosedur, birokrasi, atau kekurangan kapasitas di wilayah.
Efisiensi dan Pencegahan Kebocoran Anggaran
Pemerintah dan DPR sama‑sama menyebut pentingnya efisiensi dan mencegah pemborosan atau kebocoran. Misalnya, dari yang disetujui awal Rp2,5 triliun, Kementrans mengembalikan Rp777 miliar ke negara sebagai bagian dari restrukturisasi anggaran.
Pengurusan sertifikasi dan penyelesaian sengketa lahan menjadi isu sentral yang harus segera ditangani agar masyarakat transmigran mendapat kepastian hukum
Tidak semua model transmigrasi cocok untuk semua daerah, perlu adaptasi lokal.
Dukung Transformasi Dampak Potensial Positif
Pemerataan pembangunan
Kawasan transmigrasi bisa menjadi wilayah yang lebih mandiri—tidak sebagai “area dependen” tetapi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi lokal.
Risiko bahwa program menjadi “macet” karena kendala birokrasi, korupsi, atau minimnya koordinasi antar instansi (ATR/BPN, Keuangan, Kementerian PUPR, Pemerintah Daerah).
Tantangan lingkungan, terutama jika wilayah transmigrasi meliputi kawasan hutan atau ekosistem sensitif — perlu keseimbangan antara pembangunan dan konservasi.






