1. Labura miliki 20 Objek Wisata, Tapi Mana Perhatian Pemerintah?
Koran Sibolga Labura miliki Kaya akan panorama alam, namun miskin perhatian. Itulah potret pariwisata di Kabupaten Labuhanbatu Utara saat ini. Dari 20 objek wisata yang tersebar di enam kecamatan, hampir semuanya dikelola perseorangan. Ironisnya, satu-satunya objek wisata yang dikelola Pemkab, yakni Aekburu di Kecamatan Na IX-X, kini nyaris roboh.
“Hampir 90 persen fasilitas rusak berat,” ujar JR Simanjuntak, Kabid Pariwisata Disporapar Labura.
Dengan potensi wisata yang begitu besar, kenapa pemerintah tampak belum serius? Jawabannya mungkin ada di anggaran: Riperkab saja masih diusulkan dengan dana Rp300 juta dari kebutuhan Rp800 juta.
2. Potensi Wisata Besar, Tapi PAD Labura Masih Kecil: Apa Masalahnya?
Labura memiliki 20 objek wisata yang berpotensi mendongkrak pendapatan asli daerah (PAD). Namun kenyataannya, sektor ini nyaris tidak menyumbang banyak. “Belum ada Perda pariwisata, jadi kita juga kesulitan menarik retribusi,” ujar JR Simanjuntak.

Baca Juga: Darma Wijaya punya rutinitas jenguk teman sakit
3. Labura miliki: Surga Tersembunyi yang Terlupakan
Tidak banyak yang tahu, bahwa di balik nama Labura yang belum populer, tersimpan keindahan tersembunyi dari tujuh objek wisata di Na IX-X hingga tiga objek wisata di Aeknatas.
Sayangnya, keindahan ini belum terkelola maksimal. Akses jalan buruk, promosi hampir nihil, dan satu-satunya destinasi ‘resmi’ milik Pemkab—Aekburu—kini justru jadi contoh buruk akibat kerusakan fasilitas.
4. Labura miliki: Mengapa Daerah Ini Tertinggal?
Di antara delapan kecamatan di Labura, dua di antaranya—Marbau dan Kualuhhilir—belum memiliki objek wisata yang terdata. Apakah benar-benar tak ada potensi?
Ini menjadi PR besar bagi dinas terkait untuk melakukan pemetaan potensi wisata secara menyeluruh. “Tugas awal kita adalah menyusun Riperkab, baru setelah itu bisa bergerak,” ujar Simanjuntak.
Mungkin selama ini pesona Marbau dan Kualuhhilir tersembunyi, hanya menunggu tangan-tangan kreatif untuk mengangkatnya.
5. UGM Ambil Alih Perencanaan Wisata Labura: Langkah Awal yang Serius?
Ini langkah awal menuju perencanaan wisata yang ilmiah dan sistematis.
Langkah ini menjadi titik tolak: dari pariwisata yang berjalan ‘apa adanya’ ke arah yang lebih terarah, terukur, dan memberi manfaat nyata bagi ekonomi daerah.


