Pea Bumbung Menunggu Uluran Tangan Negara
Koran Sibolga – Pea Bumbung Menunggu Uluran Di sebuah sudut pedalaman yang dikelilingi hamparan hijau dan sungai kecil yang mengalir tenang, terdapat sebuah wilayah bernama Pea Bumbung. Daerah ini mungkin tidak dikenal banyak orang, namun kehidupan warganya merekam cerita panjang tentang ketegaran, perjuangan, sekaligus harapan yang belum sepenuhnya tersampaikan.
Di tengah segala kekurangan infrastruktur dan kebutuhan dasar, Pea Bumbung masih menunggu satu hal yang seharusnya menjadi hak mereka sejak lama: uluran tangan negara.
Pea Bumbung Menunggu Uluran wJalan Rusak, Transportasi Terbatas
Salah satu persoalan terbesar warga adalah akses jalan yang jauh dari layak. Jalan menuju Pea Bumbung sebagian besar masih berupa tanah dan kerikil tajam. Ketika musim hujan tiba, jalur itu berubah menjadi kubangan lumpur yang sulit dilewati kendaraan biasa.
Bagi warga yang ingin ke sekolah, pasar, atau fasilitas kesehatan, perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu beberapa menit bisa berubah menjadi perjalanan berjam-jam.
Ini bukan hanya soal kenyamanan, tetapi menyangkut keselamatan dan akses terhadap layanan dasar.
Baca Juga: Perkuat Sektor Peternakan Mentan Turunkan Tim ke Aceh Tengah
Sekolah yang Berdiri dari Keikhlasan Para Guru
Di Pea Bumbung, ada sebuah sekolah yang berdiri lebih karena semangat daripada fasilitas. Bangunannya sederhana, sebagian masih menyatu dengan rumah warga atau balai desa. Para guru yang mengajar bukan hanya datang untuk memberi pelajaran, tetapi sekaligus memikul beban moral agar generasi Pea Bumbung tidak tertinggal jauh dari desa-desa lain.
Mereka mengajar meski fasilitas minim — tanpa perpustakaan memadai, tanpa laboratorium, bahkan kadang tanpa buku ajar yang lengkap. Namun anak-anak tetap datang, membawa harapan kecil yang menggantung di mata mereka.
Kesehatan: Masalah yang Belum Benar-Benar Tertangani
Fasilitas kesehatan adalah persoalan berikutnya. Warga Pea Bumbung harus menempuh perjalanan panjang untuk bertemu tenaga medis, terutama saat keadaan darurat.
Pos pelayanan kesehatan belum tersedia secara penuh, dan obat-obatan sering kali tidak cukup untuk menangani kasus tertentu.
Ketika seseorang sakit, keluarga sering menghadapi dilema antara menunggu bantuan atau nekat menempuh perjalanan panjang melewati jalan rusak. Kedua pilihan sama-sama berisiko.
Potensi Alam yang Belum Tersentuh
Di balik segala kekurangan itu, Pea Bumbung memiliki potensi alam yang besar. Tanahnya subur, cocok untuk pertanian dan perkebunan. Air mengalir melimpah. Jika dikelola dengan baik dan didukung dengan akses ekonomi yang memadai, wilayah ini berpeluang berkembang menjadi sentra produksi lokal.
Sayangnya, minimnya perhatian dan sarana membuat potensi itu tidak maksimal. Hasil bumi warga sering tidak bisa dijual dengan harga layak karena ongkos transportasi sangat tinggi.
Pea Bumbung Menunggu Uluran Harapan kepada Negara
Warga Pea Bumbung tidak menuntut banyak. Mereka hanya ingin hadirnya negara, bukan sekadar janji pembangunan. Mereka ingin jalan yang layak, pendidikan yang terjamin, fasilitas kesehatan yang memadai, dan akses ekonomi yang setara dengan daerah lain.
Seorang tokoh masyarakat setempat menggambarkan harapan mereka dengan sederhana:
“Kami tidak minta berlebihan. Kami hanya ingin hidup seperti warga desa lain—langsung merasakan bahwa kami juga bagian dari republik ini.”
Kata-kata itu menggambarkan dahaga panjang akan kehadiran pemerintah, baik dalam bentuk kebijakan, bantuan infrastruktur, maupun program sosial.
Solidaritas Masyarakat: Benteng Terakhir
Meski menunggu uluran tangan negara, warga Pea Bumbung tidak tinggal diam. Mereka gotong royong, memperbaiki jalan seadanya, membangun ruang kelas darurat, dan membantu satu sama lain ketika ada yang sakit atau mengalami kesulitan.
Solidaritas itulah yang membuat Pea Bumbung tetap bertahan. Namun solidaritas tidak bisa menjadi solusi permanen. Warga tetap membutuhkan sentuhan kebijakan yang berpihak dan keberpihakan anggaran yang nyata.
Penutup: Saatnya Negara Hadir Sepenuhnya
Pea Bumbung adalah potret sekian banyak wilayah di negeri ini yang masih menunggu perhatian.
Ketika negara hadir di pusat kota, di jalan-jalan besar, atau di pusat pemerintahan, warga Pea Bumbung bertanya-tanya:
Kapan giliran kami merasakan perhatian itu?






