Penampakan Warga Menyeberangi Sungai Pakai Tali, Kapolres Gayo Lues Sebut 40 Desa Masih Terisolasi
Koran Sibolga – Penamapakan Warga Bencana banjir dan longsor yang melanda Kabupaten Gayo Lues dalam beberapa hari terakhir kembali memperlihatkan potret kesulitan warga di daerah terpencil. Sebuah video yang memperlihatkan warga menyeberangi sungai dengan hanya berpegangan pada seutas tali menjadi sorotan. Kondisi ini mencerminkan betapa terbatasnya akses transportasi setelah sejumlah jembatan putus dan jalan tertimbun material longsor.
Warga Bertaruh Nyawa demi Melintas
Dalam rekaman yang beredar, sejumlah warga terlihat harus menyeberangi arus sungai yang deras dengan cara merayap pada tali yang dipasang darurat oleh masyarakat setempat. Beberapa di antaranya terpaksa menggendong anak kecil dan membawa barang kebutuhan pokok. Situasi ini menjadi satu-satunya pilihan bagi mereka yang membutuhkan akses ke pusat kecamatan untuk membeli kebutuhan dan mendapatkan layanan kesehatan.
“Tidak ada jalan lain. Kalau tidak menyeberang lewat sini, kami tidak bisa keluar sama sekali,” ujar salah satu warga yang berada di lokasi.
Baca Juga: Kapolres Pidie Salurkan Bantuan Akpol 2005 untuk Korban Banjir di Pidie
Penamapakan Warga Kapolres Gayo Lues: 40 Desa Masih Terisolasi
Kapolres Gayo Lues mengonfirmasi bahwa hingga hari ini masih terdapat sekitar 40 desa yang terisolasi akibat bencana yang terjadi secara beruntun. Putusnya infrastruktur vital seperti jembatan gantung, jalan penghubung antardesa, hingga akses menuju fasilitas kesehatan membuat proses evakuasi dan distribusi bantuan menjadi sangat terhambat.
“Tim gabungan sedang berupaya membuka akses, namun kondisi medan sangat berat. Banyak titik longsor yang membutuhkan alat berat, sementara jalurnya sulit dijangkau,” jelas Kapolres.
Ia menambahkan bahwa beberapa tim SAR, TNI, Polri, serta relawan lokal telah ditempatkan di pos-pos tertentu untuk mempercepat penanganan dan mengirimkan bantuan darurat menggunakan jalur alternatif, termasuk melalui jalur sungai dan lintasan kaki.
Bantuan Masih Terkendala Cuaca
Upaya pengiriman bantuan logistik juga masih mengalami hambatan akibat cuaca yang tidak menentu. Hujan lebat yang terus mengguyur kawasan pegunungan memperbesar risiko longsor susulan, membuat aparat harus ekstra hati-hati ketika membawa logistik menuju desa-desa terdampak.
Beberapa bantuan terpaksa dikirim menggunakan sepeda motor trail dan berjalan kaki. Bahkan, di desa tertentu, bantuan diturunkan melalui sistem sling manual yang digerakkan oleh warga karena jembatan utama ambruk.
Penamapakan Warga Masyarakat Harapkan Akses Segera Pulih
Selain kebutuhan pangan, warga juga sangat membutuhkan akses kesehatan, terutama untuk balita, lansia, dan ibu hamil.
“Kami berharap akses cepat dibuka. Sudah beberapa hari kami hanya mengandalkan persediaan yang ada. Anak-anak mulai sakit, dan ke puskesmas sangat sulit,” ucap seorang tokoh masyarakat.
Pemerintah Daerah Intensifkan Koordinasi
Pemerintah daerah Gayo Lues memastikan telah berkoordinasi dengan BPBD, TNI-Polri, serta instansi terkait untuk mempercepat penanganan darurat. Prioritas utama saat ini adalah membuka akses jalan, memperbaiki jembatan rusak, serta menjamin pasokan kebutuhan pokok.
Sementara itu, Kapolres kembali mengingatkan masyarakat untuk tetap mengutamakan keselamatan dan tidak memaksakan diri melintasi jalur berbahaya kecuali dalam keadaan mendesak.
“Keselamatan warga adalah yang utama. Kami mengimbau agar masyarakat menunggu tim yang bertugas memperbaiki akses, dan jangan mengambil risiko yang terlalu besar,” tegasnya.
Dengan kondisi 40 desa yang masih terisolasi, penanganan bencana di Gayo Lues memasuki fase kritis.






