Petani Sering Kesulitan Air Warga Mila Desak Pemerintah
Koran Sibolga – Petani Sering Kesulitan Air Di Kecamatan Mila, Kabupaten Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, warga dan petani terus mengalami kesulitan air selama musim kemarau akibat rendahnya debit sungai dan belum adanya infrastruktur penampungan yang memadai. Saat hujan sedikit, air cepat mengalir deras dan saat kemarau debit menyusut drastis, sehingga lahan pertanian kekurangan pasokan.
Satu di antara solusi yang digulirkan masyarakat ialah pembangunan Bendungan Krueng Mila di aliran sungai Krueng Tuha Lala atau aliran yang menjadi sumber air utama di gampong-gampong di Kecamatan Mila, yang saat ini hanya mengandalkan aliran alam tanpa bentukan bendungan besar.
Permintaan Warga
Warga Kecamatan Mila telah beberapa kali mengajukan proposal resmi kepada pemerintah provinsi dan kabupaten agar proyek bendungan tersebut dijadikan prioritas.
Menurut laporan, manfaat yang diharapkan dari bendungan ini antara lain:
Menjadi sumber air untuk kebutuhan irigasi di empat kecamatan: Mila, Delima, Grong-Grong, dan Padang Tiji.
Menjamin pasokan air saat kemarau sehingga sawah tidak mengering dan petani dapat menanam secara rutin.
Pengurangan risiko banjir saat musim hujan karena pengaturan aliran sungai melalui tangkapan bendungan.
Pemenuhan kebutuhan air bersih rumah tangga di daerah yang bergantung pada sungai.
Keuchik Gampong Tuha Lala, desa yang menjadi lokasi pengusulan bendungan, menyatakan bahwa sudah datang beberapa permohonan ke Gubernur Aceh agar proyek Bendungan Krueng Mila dimasukkan ke dalam program prioritas tahun 2026.
Baca Juga: Warga Banda Aceh Tertipu Jual Beli Mobil di Facebook Rp 66 Juta
Kondisi Petani Saat Ini
Saat musim kemarau tiba, aliran sungai sangat kecil dan tidak cukup untuk mengairi sawah. “Air sungai ini satu-satunya sumber kehidupan kami. Makanya perlu dibangun bendungan … kalau tidak dibendung, air cepat habis dan sawah tidak bisa diairi,” ujar seorang petani.
Petani harus menunda tanam atau bahkan memilih tidak menanam karena kekhawatiran gagal panen akibat kekurangan air.
Ada konflik antar desa karena berebut aliran air sungai yang makin terbatas.
Petani Sering Kesulitan Air Pentingnya Infrastruktur Bendungan
Pembangunan bendungan seperti Bendungan Krueng Mila dipandang sebagai investasi jangka panjang guna:
Meningkatkan produktivitas pertanian di wilayah yang selama ini bergantung pada musim hujan dan aliran tak stabil.
Meningkatkan ketahanan pangan lokal karena memungkinkan penanaman yang lebih pasti dan mengurangi risiko gagal panen.
Menjadi fasilitas pengendalian air saat hujan deras sekaligus penyimpanan air saat kekeringan.
Menunjang kebutuhan air bersih bagi masyarakat yang selama ini mengandalkan sungai.
Petani Sering Kesulitan Air Tantangan & Catatan Penting
Koordinasi antara pemerintah provinsi, kabupaten, dan desa sangat penting agar tidak terjadi delay atau kegagalan proyek seperti yang terjadi di proyek bendungan lain di Aceh. Dari pengalaman, infrastruktur irigasi yang mangkrak sangat merugikan petani.
Imbauan untuk Pemerintah dan Masyarakat
Pemerintah Provinsi Aceh dan Kabupaten Pidie: Segera menindaklanjuti aspirasi warga dan memasukkan pembangunan Bendungan Krueng Mila dalam program prioritas infrastruktur sumber daya air.
Masyarakat dan petani di Kecamatan Mila: Tetap mengorganisir diri melalui forum tani, menyimpan dokumentasi usulan, dan aktif memantau progres pembangunan agar suara mereka tidak hilang.
Pelaku tani: Sambil menunggu infrastruktur besar selesai, dapat memanfaatkan langkah-sementara seperti konservasi air, pompanisasi kecil, dan penanaman varietas tahan kekeringan agar tidak terlalu terpukul oleh kekurangan air.
Stakeholder terkait: Perlu transparansi anggaran dan timeline pelaksanaan agar harapan petani tidak menjadi janji kosong.
Kesimpulan
Kebutuhan akan Bendungan Krueng Mila di Kecamatan Mila bukan sekadar proyek fisik — melainkan kunci bagi kehidupan petani yang selama ini berjuang dengan ketersediaan air yang tidak menentu. Dengan keberadaan bendungan ini, harapan untuk sawah yang terairi, kesejahteraan petani meningkat, dan ketahanan pangan wilayah semakin terjamin. Namun, semua itu hanya akan terwujud jika ada tindakan nyata dari pemerintah dan partisipasi aktif dari masyarakat.






