Terobos Gelap dan Lumpur Misi Kemanusiaan FISIP Unimal: Menembus Gelap dan Lumpur Demi 500 Nasi untuk Anak-anak Pengungsi
Koran Sibolga – Terobos Gelap dan Lumpur Di balik keterpencilan dan situasi yang serba terbatas, sekelompok mahasiswa dan dosen dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Malikussaleh menunjukkan bahwa kepedulian bisa melampaui rintangan apa pun. Dalam sebuah perjalanan kemanusiaan yang penuh tantangan, mereka mengantarkan 500 nasi kotak untuk anak-anak pengungsi di kawasan pedalaman yang aksesnya sangat sulit dijangkau.
Aksi ini bukan sekadar penyaluran bantuan, melainkan gambaran nyata tentang solidaritas dan kemanusiaan.
Terobos Gelap dan Lumpur Perjalanan Melintasi Gelap, Hujan, dan Lumpur
Tim FISIP Unimal berangkat sejak subuh dengan harapan bisa mencapai lokasi pengungsian pada siang hari. Namun kondisi lapangan jauh dari perkiraan. Jalanan menuju lokasi dibalut lumpur tebal akibat hujan deras, beberapa titik bahkan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki sambil memikul kotak-kotak bantuan.
Sinar matahari tak mampu menerobos tebalnya pepohonan, membuat sebagian perjalanan berlangsung dalam gelap. Namun tekad mereka tak surut. “Kalau kami menyerah, anak-anak itu bisa tidak makan hari ini,” ujar salah satu relawan.
Baca Juga: Pesona Pantai Lantik Simeulue Surga Tenang di Ujung Barat Nusantara
Anak-anak Menyambut dengan Senyum yang Menghapus Lelah
Sesampainya di lokasi, rasa letih relawan seakan terbayar lunas. Ratusan anak pengungsi berlarian menyambut mereka dengan antusias. Senyum polos yang mereka tunjukkan mengubah suasana berat menjadi haru.
Banyak dari anak-anak tersebut sudah berhari-hari tinggal di tenda darurat setelah wilayah tempat tinggal mereka terisolasi. Kebahagiaan sederhana berupa satu kotak nasi hangat menjadi momen yang begitu berarti bagi mereka.
Aksi Bersama yang Dipicu oleh Nurani
Kegiatan kemanusiaan ini lahir dari inisiatif mahasiswa FISIP Unimal yang tidak ingin sekadar menjadi penonton atas kondisi masyarakat yang sedang kesulitan. Mereka melakukan penggalangan dana internal, berkoordinasi dengan pihak kampus, lalu bergerak cepat ke lokasi yang membutuhkan bantuan paling mendesak.
Para dosen pun ikut mendampingi sebagai bentuk dukungan moral dan memastikan kegiatan berlangsung aman.
Terobos Gelap dan Lumpur Lebih dari Sekadar Bantuan Makanan
Selain 500 nasi kotak, tim juga memberikan beberapa kebutuhan dasar seperti air mineral, makanan ringan untuk anak-anak, serta perlengkapan kebersihan. Tim juga menyempatkan diri bermain dan menghibur anak-anak, memberikan sedikit ruang bagi mereka untuk merasakan keceriaan di tengah situasi sulit.
Para relawan berharap kehadiran mereka bisa sedikit mengurangi rasa trauma dan ketakutan yang dialami anak-anak selama di pengungsian.
Pelajaran Berharga tentang Empati dan Tanggung Jawab Sosial
Aksi ini menjadi pengalaman berharga bagi seluruh tim. Mereka belajar bahwa kemanusiaan tidak hanya soal memberi, tetapi juga soal hadir dan memahami kondisi orang lain secara langsung.
Pengalaman menembus gelap, hujan, dan lumpur telah mengukir pemahaman baru bagi mahasiswa: bahwa ilmu sosial tidak berhenti di ruang kuliah, tetapi hidup dalam tindakan nyata.
Harapan akan Dukungan Lebih Luas
FISIP Unimal berharap aksi ini menginspirasi lebih banyak pihak untuk bergandengan tangan membantu masyarakat yang sedang membutuhkan. Masih banyak titik pengungsian lain yang aksesnya terisolasi dan belum mendapatkan perhatian memadai.






